– INDONESIAN MARINE FISHERIES – FPIK UB
Ditulis pada tanggal 1 March 2019, oleh admin, pada kategori Berita

Sebagai pembuka bulan maret tahun 2019 (Jumat,01/03/2019) Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Universitas Brawijaya menyelanggarakan kuliah tamu yang bertajuk Sustainable Fisheries untuk Mewujudkan Kedaulatan, Keberlanjutan, dan Kesejahteraan. Kuliah umum tersebut menghadirkan narasumber Edwinson Setya F, S.Pi, MMA selaku Pengawas Perikanan bidang Penangkapan Ikan pada Direktorat Jendral Perikanan Tangkap menempuh jenjang sarjana di PSP padatahun 1999 sebelum bertandang ke USA untuk melanjutkan studi Master. KuliahTamu yang bersifat terbuka bagi seluruh mahasiswa aktif Prodi PSP UB diselenggarakan di Laboratorium Eksplorasi Gedung A lantai 2 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Pada kesempatan tersebut Bapak Edwison menyampakan empat pokok bahasan yaitu potensi kelautan dan perikanan, perkembangan perikanan 2014-2019, ancaman-ancaman terhadap keberlanjutan perikanan, dan solusi sustainable fisheries untuk mewujudkan kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Dalam materi tersebut disampaikan bahwa potensi kelautan dan perikanan berdasarkan Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan (Komnas KAJISKAN) sebesar 12,5juta ton/tahun. Potensi ini disebabkan karena Indonesia berada di jantung segitiga terumbu karang (coral reef triangle). Perkembangan perikanan pada tahun 2014-2019, menurut Kementerian Kelautandan Perikanan (KKP) hasil di bidang perikanan tangkap sebesar 6,8juta ton, di bidang ekspor perikanan Indonesia berada pada posisi ke-6 di dunia.

“Sebelum mengekspor, kebutuhan perikanan nasional harus terpenuhi” Lukas Bapak Edwison pada salah satu pembahasan. Selain pencapaian tersebut, ternyata Indonesia menduduki posisi pertama di ASEAN pada bidang neraca perdagangan perikanan. Dari pencapaian tersebut tak terlepas dari ancaman yang dapat mengganggu keberlanjutan perikanan, yaitu over fishing (penangkapan berlebih), IUUF (Illegal, Unreported, Unregulated Fishing), destructive fishing (API yang tidak ramah lingkungan). Ancaman tersebut yang melatarbelakangi adanya regulasi peralangan alat tangkap di WPP NRI dengan harapan keberlanjutan sumberdaya perikanan tidak hanya bias dinikmati saat ini namun juga dimasa yang akan datang.