– INDONESIAN MARINE FISHERIES – FPIK UB
Ditulis pada tanggal 22 May 2019, oleh admin, pada kategori Berita

Narrator: FPIK-UB

Gambar 1. Foto Nelayan Kompresor Bangsring Sedang Menangkap Ikan Hias

Nelayan Kompresor

Kata Bangsring mulanya lebih dikenal sebagai nelayan handal penangkap ikan hias dengan menggunakan kompresor (Gambar 1). Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan melarang penggunaan alat bantu kompresor dalam menangkap ikan. Sebagai dampaknya, nelayan Bangsring sering kali berurusan dengan pihak berwajib, baik di laut maupun di darat. Seiring dengan perjalanan waktu, nelayan juga merasakan penurunan hasil tangkapan (ikan hias) dan kerusakan dari habitat terumbu karang. Jika hal ini berlanjut terus, penghasilan nelayan akan berkurang dan pada suatu saat nanti, sumber mata pencaharian sebagai nelayan ikan hias tidak lagi menjanjikan. Ikwan Arif, seorang anak muda Desa Bangsring yang mengenyam pendidikan universitas (S1 dan S2 di Malang), menangkap dan merasakan kekhawatiran ini. Dia mulai melakukan assessment untuk menghindar dari collapse (dampak kehancuran ekonomi paling parah di Eropa dan Canada terjadi ketika peristiwa over-fishing Ikan Cod).

Sukandar

Sukandar  ialah  seorang  dosen  dari  Fakultas  Perikanan  dan  Ilmu  Kelautan  Univ ersitas Brawijaya (FPIK-UB) yang diminta oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur untuk membangun sistem pengawasan masyarakat (POKWASMAS) terhadap sumber daya perikanan. Dia berkenalan dengan Ikwan Arif dan kelompok nelayan Bangsring sejak Tahun

2009. Dibantu oleh beberapa dosen lainnya, Sukandar mulai membangun kepercayaan nelayan (trust building) untuk secara bersama melindungi sumber daya perikanan melalui

konservasi (Gambar 2). POKWASMAS mulai bergerak untuk menggali alternatif usaha yang bisa dikembangkan sambil melakukan rehabilitasi terhadap habitat terumbu karang. Mereka mulai belajar untuk melakukan transplantasi karang dengan berbagai teknik yang berbeda. Sebagai suatu usaha penyadaran, hal ini cukup berhasil karena nelayan melihat pertumbuhan karang transplant yang mereka tanam. Pada pengamatan selanjutnya, selayan mulai melihat adanya beberapa ikan yang berkumpul pada karang transplant. Namun usaha konservasi dan rehabilitasi habitat ini tentu saja belum bisa membayar atau menjadi kompensasi dari penghasilan mereka yang selama ini sudah menurun. Sebuah terobosan baru harus ditemukan untuk membayar kerugian jangka pendek mereka (short-term losses).

Gambar 2. Foto Sukandar Berdiskusi dengan Nelayan Bangsring